Januari

Ini adalah cerita satu hari di bulan Januari. Tentang Iris Sofia, seorang banker berusia 30 tahun yang sedang berlibur sekaligus kabur dari orang-orang sekitarnya yang mendesaknya untuk segera menikah. Ketika Iris menikmati liburannya, dia bertemu seorang pria dari masa lalu.
“Apa saya boleh curi waktu kamu dua kali lagi?” – X

Januari
Proyek Cerita Pendek Bulanan 2019
Januari oleh Putpit

st-martin-de-belleville

Salju. Secangkir cokelat panas. Selimut wol tebal. Apa yang lebih menenangkan dari tiga hal itu? Iris meresapi kehangatan cangkir yang ada di genggamannya seraya meniup pelan cokelat di dalamnya. Dia meneguknya sekali, menikmati rasa manis yang memenuhi mulutnya.
Setelah tujuh tahun bekerja tanpa libur, akhirnya Iris dapat istirahat dari penatnya aktivitas kantor. Bagian terpenting dari liburannya adalah tidak ada omelan Mama, cibiran tante-tante, dan pertanyaan Papa yang berulang-ulang mengenai pernikahan. Iris bebas…sesaat.
Setidaknya selama dua minggu ini Iris harus bisa memaksimalkan ‘me time’ yang dipunyanya. Dia mungkin akan jalan-jalan, main ski, atau jika tidak ingin melakukan apapun maka dia akan seharian di kamar hotel sembari membaca buku.
Iris memejamkan mata, membiarkan angin musim dingin menerbangkan helai-helai rambut hitamnya. Matahari bersinar cukup terik setelah malam kemarin sempat terjadi hujan lebat disertai badai. Cuaca di Polandia pada bulan Januari dapat berubah-ubah secara drastis sehingga Iris harus sering mengecek ponselnya untuk memantau keadaan sekitar.
Ting
Ada pemberitahuan sebuah pesan masuk ketika Iris mengusap layar ponselnya. Dia membuka pesan tersebut dan membacanya.
Iris, ini Mama. Kapan kamu pulang? Mama mau kenalin kamu sama anak teman Mama. Nanti kalau cocok bisa lanjut nikah. Anaknya tampan, mapan, dan wawasannya luas. Segera kabari Mama ya.
Love
Iris menghela napas. Baru dua hari dia berlibur tapi sang Mama masih sempat meributkan pernikahan. Oh Tuhan.
Ting
Ting
Ting
Ting
Tiba-tiba ponselnya berdering lagi pertanda ada beberapa pesan masuk. Iris pun membuka pesan yang pertama.
Halo keponakan tante yang cantik. Jangan lupa ya oleh-oleh buat Om Agung, Tante Luna, Dodit-Didit, Vani-Vina, sama Amanda! Semoga habis pulang liburan langsung ketemu jodoh terus menikah tahun ini ya. Amin.
Oke, sehabis Mamanya sekarang giliran kembaran sang Mama yang chat. Mana minta oleh-oleh untuk satu keluarga juga. Astaga.
Pesan kedua:
Halo Iris Sofia, keponakan tante Nini yang masih jomblo! Tante Nini punya nasehat bijak pagi hari buat kamu. Selagi liburan disana, jangan cuma jalan-jalan sendirian aja. Sekali-kali lirik kanan-kiri barangkali ada jodoh kecantol. Hahaha
Adik ketiga Mama yang kadang Iris pikir punya bakat stand up comedy ini benar-benar suka membuat Iris pusing seketika.
Pesan ketiga:
Anakku sayang, gimana liburannya? Jangan lupa makan sama pakai jaket yang tebal! Papa rindu kamu. Pulang-pulang bawa calon mantu ya. Soal pernikahan mah gampang, kamu mau nikah dimana? Di Polandia bisa, di Indonesia bisa. Beritahu Papa aja.
Love
Iris menyandarkan punggungnya di kursi mendadak merasa lelah. Cangkir di pegangannya pun telah dingin. Iris mencecap habis sisa cokelat yang ada kemudian membaca pesan yang terakhir.
Iris, sudah sampai Poland dengan selamat? Tenang aku nggak akan ngomongin soal nikah. Aku cuma mau mengingatkan kalau liburanmu cuma tanggal 2-16 Januari terus besoknya udah ada meeting yang menunggu. Have fun hahaha
Salam sayang,
Sahabatmu Rose
Iris langsung mematikan daya ponselnya. Angan-angannya untuk liburan dengan tenang lenyap seketika. Iris beranjak dari kursi lalu berjalan ke kamar. Sepertinya dia harus keluar jalan-jalan supaya pikirannya tidak kusut.

ooo

Setelah empat jam keliling ke tempat-tempat random yang infonya didapat dari internet, akhirnya Iris menghentikan perjalanannya di sebuah restaurant. Dia melepaskan jaket soft pink miliknya dan menyampirkannya pada sandaran kursi
Welcome to Sofia’s Kitchen. Let me tell you about our specials menu in January. We have a chicken noodle soup with winter vegetables and double-chocolate hot chocolate,” ujar seorang pelayan saat Iris tengah menekuri buku menu.
What is double-chocolate hot chocolate?” tanya Iris penasaran.
Double-chocolate hot chocolate is mix of bittersweet and milk chocolate. In the top, we put marshmallows and cookies,” jawab pelayan tersebut.
Iris mengangguk paham. “Sounds yummy. Okay, I will take the specials menu.
Alright, miss. Can I get you anything else?
That’s all, thank you.
Okay,” kata si pelayan lalu beranjak pergi.
Iris menautkan kedua tangannya lalu menumpukan dagu diatasnya. Dia mengedarkan pandangan ke sekitar. Desain yang klasik dipadukan warna natural dari kayu dan batu membuat restoran ini terasa hangat. Ditambah ada live music, tak heran bila banyak pengunjung yang datang.
This is your order, Miss,” kata si pelayan menyajikan pesanan Iris di meja.
Oh, thank you,” sahut Iris agak kaget lantaran asyik memperhatikan suasana restoran.
You are welcome.
Lima belas menit kemudian, makanan Iris telah habis. Dia mengelap mulutnya dengan tissue lalu mengangkat tangannya untuk memanggil si pelayan.
Can I have the bill, please?
Yes. Wait a minute, Miss.
Iris mengangguk mengiyakan. Dia tersenyum puas seraya mengencangkan ikatan rambutnya. Makanan enak, pelayanan ramah, tempat nyaman, sepertinya selama liburan dia akan sering mampir kesini.
Saat Iris menunggu si pelayan tiba-tiba ada seorang pria duduk di hadapannya. Pria tersebut mengenakan seragam chef lengkap dengan apron serta side towel di pinggangnya.
“Hai. Boleh curi waktunya sebentar?” tanya pria tersebut.
Iris mengerutkan kening. Dia heran lantaran mengetahui pria asing itu berbicara padanya menggunakan bahasa Indonesia. “Maaf?”
“Iris Sofia kan?” tanyanya lagi.
Iris mengangguk pelan. “Iya. Anda si-”
Mata kecokelatan sang pria berbinar senang. “Saya Zein. Mahardika Zein,” ucapnya.
I am sorry. This is your bill, Miss,” sela pelayan memberikan kertas kecil berisi total harga yang harus dibayar.
Just keep it, Bianca. She is my best friend,” kata pria bernama Zein tersebut seraya memberikan kembali tagihannya pada pelayan.
Okay, sir.
“Hah? Eh, jangan! Biar saya bayar aja,” kata Iris mengambil dompet di saku celananya.
Zein refleks memegang tangan Iris supaya tidak perlu mengeluarkan uang. “Nggak usah. Coba kamu ingat-ingat saya aja.”
Iris yang merasa canggung perlahan menarik tangannya. “Mahardika Zein?” ucapnya masih bingung.
“Iya.”
Tanpa sadar, Iris menggigit telunjuk kanannya sembari berpikir. Zein pun tertawa kecil melihat tingkah wanita cantik di depannya.
Iris menatap Zein dengan sebelah alis terangkat. “Anda kenapa?”
“Kebiasaan kamu dari kecil nggak hilang ya. Malah jadi tambah lucu,” sahut Zein mencubit kedua pipi Iris.
Iris terbelalak. “Eh, nggak sopan ya Anda,” katanya sambil memegang kedua pipinya yang barusan dicubit. Dia berdiri kemudian berujar, “Saya permisi dulu.”
Zein menahan lengan Iris. “Eh tunggu. Saya minta maaf. Gentong. Kamu ingat nggak panggilan itu? Anak cowok gendut, hitam, dan pakai kawat gigi. Tetangga kamu? Teman masa kecil?” jelasnya cepat.
Butuh beberapa menit bagi Iris untuk mencerna penjelasan Zein “Astaga, Zein! Sorry saya nggak ngenalin kamu,” kata Iris mengganti panggilannya.
No problem. Puberty hit me so hard and here I am now. Saya masih simpan foto kita waktu kecil kalau kamu masih belum percaya,” kata Zein menunjukkan isi dompetnya.
Iris tersenyum mendapati sebuah foto lama keduanya yang tengah berdiri berdampingan di halaman parkir sebuah bandara. Foto itu diambil sebelum Zein pindah ke luar negeri.
“Gimana? Apa saya sudah ganteng sekarang?” tanya Zein.
“Emang saya pernah bilang kamu jelek ya?”
“Enggak sih.”
“Nah.”
Iris bertanya, “Zein, kamu yang punya restoran ini?”
“Nggak, saya cuma kerja bantu chef aja,” jawab Zein.
“Tapi kenapa ada tulisan Owner di lencana kamu?”
Zein meringis. “Eh, iya ya,” ucapnya kikuk. “Gimana makanan disini? Suka?”
“Suka. Enak banget. Oh ya, gimana kabar orang tua kamu? Masih sibuk kerja keliling luar negeri?”
“Papi sama Mami sudah meninggal sepuluh tahun yang lalu. Kecelakaan mobil di Jerman.”
Iris menutup mulutnya kaget. “Ya ampun, maaf.”
Zein tersenyum tipis. “It’s okay. Setelah keduanya meninggal, saya pindah kesini dan tinggal bersama nenek saya.”
“Oh,” sahut Iris masih merasa tak enak.
“Kalau Om Rafi sama Tante Lina gimana kabarnya?” tanya Zein balik.
“Baik. Papa tetap aja jayus dan Mama tetap aja cerewet. Nggak berubah walaupun sudah tua,” jawab Iris sambil tertawa.
“Syukurlah. Saya kangen banget nonton pertandingan sepak bola sama Om Rafi di lapangan kompleks tiap Sabtu sore. Saya juga kangen banget soto ayam buatan Tante Lina,” kata Zein ikut tertawa.
Iris tertegun sesaat. Tawa Zein terlihat lepas dan entah kenapa membuat mata hitam milik Iris tidak dapat berpaling darinya.
Zein memencet hidungnya. Mencoba memelankan ritme tawanya. Namun hal itu justru mengingatkan Iris pada kenangan masa kanak-kanaknya. Dulu, dia yang suka memencet hidung Zein saat pria tersebut tidak bisa berhenti tertawa akan sesuatu.
“Iris.”
Iris mengerjap. “Ya?”
“Sebenernya saya sempat main ke Indonesia tapi ternyata keluarga kamu sudah pindah.”
“Iya, saya pindah ke Jakarta Utara.”
“Kapan-kapan kalau saya ke Indonesia, saya main ke rumah kamu ya.”
“Iya, boleh.”
“Terus kamu kerja apa sekarang?”
Banker.
“Wah, hebat. Akhirnya, cita-cita kamu buat kerja di bank tercapai. Saya ikut senang.”
Sebelah alis Iris terangkat. “Emang saya pernah bilang ingin kerja di bank ya?”
“Ingat nggak sewaktu kecil dulu, kita sering main jualan-jualanan, kamu jadi penjualnya dan saya pembelinya. Kamu selalu bahagia jika dapat banyak uang dan suka menghitungnya dengan teliti. Lalu kamu pernah tanpa sadar bilang ingin kerja di bank supaya bisa punya banyak uang,” cerita Zein.
Iris mengedikkan bahu. “Hmm, saya nggak ingat. Mungkin karena sudah lama juga.”
“Sebenarnya saya termasuk orang yang mudah lupa, tapi kalau tentang kamu, saya masih ingat semuanya,” ujar Zein.
“Ada-ada aja,” kata Iris acuh tak acuh.
Zein menatap Iris dan bertanya, “Em, kamu nanti malam ada acara nggak?”
“Enggak sih tapi saya mau lanjut baca novel yang saya bawa dari rumah.”
“Gimana kalau saya curi waktu kamu lagi buat pergi sama saya?”
“Hah?”
“Mau ya?” mohon Zein dengan kedua tangan mengatup ke depan.
Iris mengangguk. “Oke.”
Yes!” seru Zein antusias. “Oh ya, apa saya boleh minta nomor kamu? Em, biar saya gampang ngehubunginya.”
“Nanti ketemu disini aja. Memang kamu mau ajak saya jam berapa?”
“Jam 7 malam.”
“Oke,” kata Iris seraya bangkit berdiri.
“Eh, tapi saya masih perlu nomor kamu. Saya takut kamu lupa terus ketiduran,” sahut Zein.
“Nggak kok.”
“Em, saya perlu beritahu kamu sesuatu yang perlu dibawa buat nanti malam.”
“Kenapa nggak kamu omongin sekarang aja?”
“Nggak bisa.”
“Kenapa?”
“Soalnya saya belum mikirin sesuatunya itu apa.”
Iris memutar kedua bola matanya. “Astaga. Yauda ini nomor saya,” kata Iris menyerahkan selembar kartu nama.
“Terima kasih,” balas Zein.
“Saya balik dulu kalau gitu,” pamit Iris mengenakan jaketnya.
See you!

ooo

“Gentong. Gentong. Gentong. Gentong,” seru anak-anak seraya bertepuk tangan mengelilingi anak cowok yang hanya menunduk diam.
Dari kejauhan, gadis kecil nampak berlari sambil menyeret tas koper bergambar pink hello kitty. “Hei, pergi sana! Jangan ganggu Zein!” teriaknya.
Gadis itu tersengal-sengal ketika tiba di kerumunan. Dia menarik napas panjang lalu menegakkan badan. Dia berdiri garang, kedua tangannya menyilang di depan dada.
“Iris kok mau sih temenan sama gentong? Iris kan cantik,” kata anak cewek yang rambutnya dikuncir dua.
Iris cemberut. “Namanya Zein bukan gentong. Nggak baik suka ejek teman kayak gitu.”
“Kita nggak ngejek tapi emang badannya besar mirip gentong. Iya kan teman-teman?” sahut anak cowok yang paling tinggi.
“Iya! Gentong. Gentong. Gentong. Gentong,” kata anak cewek yang rambutnya dikuncir dua diikuti sorakan anak-anak lain.
“Aku bakal lapor ke Ibu Guru ya kalau kalian nakal. Bu Sintia!” panggil Iris kencang.
“Kabur!” seru anak-anak berlari pergi.
“Dasar!” gerutu Iris masih marah. Dia menghampiri Zein lalu berkata, “Yuk pulang!”
Zein mengangkat wajahnya. Bulir-bulir air mata nampak membasahi pipi gembulnya. “Terima kasih ya Iris.”
Iris mengernyit. “Itu ingus kamu bersihin dulu.”
Zein mengusap hidungnya dengan punggung tangan. “Maaf maaf.”
“Ih jorok!” teriak Iris seraya menjauh. “Pokoknya kamu harus cuci tangan dulu sebelum pulang.”
“Iya iya.”
Keduanya pun berjalan ke kamar mandi untuk cuci tangan. “Eh, nanti kita main jualan-jualanan ya tapi jualannya di bank,” kata Iris.
“Kok di bank?”
“Soalnya setiap aku ikut Mama ke bank, Mama selalu dapat uang banyak.”
“Masak sih?”
“Iya. Terus pas pulangnya aku selalu dibelikan ice chocolate. Aku jadi mau kerja di bank deh biar banyak uang. Kalau kamu mau jadi apa nanti?”
“Aku mau jadi ganteng.”
“Ih, itu bukan pekerjaan. Kata Papa, pekerjaan itu yang bisa menghasilkan uang dan kamu senang melakukannya.”
“Kalau aku ganteng, aku bisa jadi artis kayak Hwa Ce Le Meteor Garden terus menghasilkan uang. Aku juga senang soalnya temen-temen nggak akan ngejek aku lagi.”
“Bisa juga sih. Tapi menurut aku, kamu itu udah ganteng kok. Nih, mamaku pernah bilang kalau semua laki-laki itu ganteng terus semua perempuan itu cantik. Jadi kita harus saling menghargai dan nggak boleh ngejek satu sama lain.”
Zein tersenyum. “Terima kasih Iris.”

ooo

Sekelebat kenangan hadir ketika Iris asyik mengamati pemandangan di luar jendela mobil. Tanpa sadar, dia tersenyum kecil. Dia benar-benar sok berani waktu kecil dulu. Astaga.
Zein tadi menjemput Iris di hotel tepat waktu dan dia tidak memberitahu mereka akan pergi kemana. Kejutan, katanya.
“Iris,” panggil Zein.
“Ya?”
“Kamu sudah menikah?”
Iris menyandarkan sebelah tangannya pada pintu mobil. Dari sekian pertanyaan, Iris paling benci yang satu ini. Oke, dia memang tinggi, cantik, kerja di bank ternama, tapi dia belum menikah walau umurnya sudah tiga puluh tahun. Bagi Iris, dia tidak perlu terburu-buru, toh dia yakin bila waktunya tepat maka akan ada pria yang tepat pula untuknya.
“Kenapa?” tanya Iris balik.
“Saya mau memastikan.”
Sebelah alis Iris terangkat. “Memastikan apa?”
“Apa kamu bisa jawab pertanyaan saya dulu?”
“Belum. Kamu sendiri?”
“Syukurlah. Saya juga belum.”
Iris melirik Zein. “Terus maksudnya memastikan itu apa?”
“Saya mau memastikan langkah selanjutnya untuk dekat sama kamu.”
“Hah?”
“Iris, berapa lama kamu liburan disini?” tanya Zein mengubah topik pembicaraan.
“Dua minggu.”
“Kok cuma sebentar?”
“Menurut kamu sebentar tapi bagi saya itu sudah lama.”
“Okay, tidak apa-apa. Waktu segitu pasti cukup. Semangat Zein!”
Iris hanya geleng-geleng kepala heran. Dia memilih melihat pepohonan di sepanjang jalan daripada memahami kelakuan Zein yang aneh.
Tak berapa lama, mobil berhenti di sebuah area kosong. Iris turun dan melihat ada dua tenda yang telah terpasang serta sebuah api unggun.
“Tenda warna merah muda buat kamu karena kamu suka warna itu dan tenda warna hitam buat saya karena saya hanya punya itu doang,” kata Zein berdiri di samping kirinya.
Iris menoleh ke arah Zein. “Jadi, kamu ngajak saya keluar adalah untuk berkemah?”
“Iya. Kamu sudah bawa barang-barang yang saya chat tadi kan?”
“Sudah, tapi saya nggak nyangka kalau kita akan tidur diluar. Cuacanya gampang berubah, gimana kalau ada badai nanti?”
“Tenang. Malam ini ada pertunjukan yang bagus jadi saya jamin cuacanya akan baik-baik aja.”
“Hah?”
“Saya taruh barang-barang dulu ya,” kata Zein mengabaikan kebingungan Iris. Dia melangkah menuju tenda sambil menenteng tas Iris dan beberapa perlengkapan lain.
Iris merapatkan jaket soft pink miliknya. Dia menyusul Zein tanpa ingin bertanya lagi. Dia duduk di batang kayu lapuk dengan kedua tangan yang terjulur ke arah api unggun.
“Cokelat panas buat kamu dan espresso buat saya,” ucap Zein tiba-tiba muncul dan duduk di sebelah Iris.
“Makasih,” kata Iris menerima gelas plastik dari Zein.
“Suka?”
“Suka. Cokelatnya enak.”
“Kalau itu?”
“Itu?”
Pandangan Iris pun mengikuti telunjuk Zein yang mengarah keatas. Dia spontan melongo lebar. Diantara gelapnya langit dan milyaran bintang, meteor-meteor nampak jatuh secepat kilat layaknya kembang api.

meteorshower
“Wow! Wow! Wow! Wow!” seru Iris tidak dapat berhenti untuk takjub.
“Itu namanya meteor shower. Suka?”
Iris mengangguk. “Suka. Indah banget.”
“Di Polandia biasanya meteor shower terjadi beberapa tahun sekali dan bisa di bulan November atau awal Januari seperti sekarang,” jelas Zein.
Iris yang sedari tadi sibuk terpesona akan keindahan alam di hadapannya mendadak tertawa keras.
“Ada apa?” tanya Zein bingung.
“Ingat nggak sewaktu kecil dulu, kamu pernah bilang ingin jadi kayak Hwa Ce Le Meteor Garden dan sekarang kamu nunjukin ini. Kamu emang sengaja ya?”
Zein menepuk jidatnya. “Astaga, kenapa kamu masih ingat? Saya lupa kalau pernah bilang itu,” katanya ikut tertawa.
“Hwa Ce Le, ya ampun. Kenapa nggak To Ming Se aja?” sahut Iris.
“To Ming Se. Panggilan macam apa lagi itu.”
Iris memegang perutnya yang mulai sakit. “Lidah orang Indonesia emang beda jadi harap maklum.”
“Tontonan legendaris masa kecil kita.”
“Kita emang korban drama China ya.”
“Bukan drama Korea?”
“Beda generasi.”
“Astaga, saya nggak bisa berhenti ketawa,” kata Zein terpingkal-pingkal.
Iris refleks memencet hidung Zein. Wajah keduanya sangat dekat hingga Iris bisa melihat dengan jelas mata kecokelatan Zein. Iris mengerjap kaget lalu buru-buru menggeser tubuhnya.
Kedua tangan Iris tertaut. Dia mengedarkan pandangan ke segala arah, merasa kikuk sendiri.
“Iris,” panggil Zein.
“Ya?” sahut Iris ragu-ragu menoleh ke kiri.
Zein menatap Iris lekat. “Apa saya boleh curi waktu kamu dua kali lagi?”
“Dua kali?”
“Iya. Pertama, saya ingin curi waktu kamu selama liburan disini. Saya mau mengajak kamu
jalan-jalan ke tempat tersembunyi yang pasti bakalan kamu sukai,” kata Zein.
Iris tersenyum. “Oke, boleh. Lalu yang kedua?”
“Kedua, saya ingin curi waktu kamu lebih banyak lagi untuk menepati janji saya dua puluh dua tahun yang lalu,” kata Zein seraya menyerahkan gelang berwarna merah muda pada Iris.
Sejenak Iris nampak kebingungan, namun detik berikutnya senyumannya merekah diiringin anggukan kecil.

ooo

Dua anak kecil berdiri berhadapan di depan pintu keberangkatan sebuah bandara. Anak perempuan cantik yang rambutnya tergerai terlihat menunduk sedangkan anak laki-laki gendut di depannya hanya bisa terdiam.
“Terima kasih ya Iris. Kamu selalu baik sama aku,” kata anak laki-laki lebih dulu bersuara.
“Seharusnya aku yang bilang terima kasih. Kan Zein yang selalu nemanin aku main, belajar, sama belain aku kalau dimarahin Mama. Terima kasih ya Zein.”
“Iya, sama-sama. Iris, kenapa kamu ngomong sambil nendang-nendang tong sampah gitu?” tanya Zein memperhatikan kaki Iris yang terus bergerak.
“Aku lagi nahan nangis. Kata Mama kalau aku nangis nanti Zein sedih. Aku nggak mau Zein sedih,” jawab Iris.
Raut wajah Zein yang tadi tenang berubah mendung. Dia memegang pundak Iris seraya berujar, “Aku mau bikin janji sama kamu.”
Iris menengadah. “Janji apa?”
“Nanti kalau aku sudah besar dan ganteng, aku akan balik ke Indonesia. Aku akan selalu nemanin kamu sampai aku tua terus berubah jadi kakek-kakek,” kata Zein.
“Beneran?”
“Iya.”
Iris mengacungkan kelingkingnya. “Pinky promise?
Of course,” sahut Zein menautkan kelingkingnya dengan Iris.
Locked,” balas Iris kemudian memakaikan gelang merah muda yang ada di sakunya pada Zein.
“Ini apa?”
“Itu gelang.”
“Iya, aku tahu ini gelang. Tapi buat apa?”
“Itu buat bukti. Entar kalau kita ketemu, kamu kasih gelangnya ke aku buat bukti kalau kamu nepatin janji. Okay?”
Zein tersenyum. “Okay.”
o
o
o
Cuplikan:
Ini adalah cerita satu hari di bulan Februari. Tentang Kinanthi Sekar, seorang dokter muda yang selalu punya target dalam hidupnya termasuk dalam hal jodoh. Dia bertekad untuk mempunyai kekasih sebelum tanggal 14 Februari. Bukan karena dia ingin merayakan Valentine bersama melainkan dia akan genap berusia 24 tahun di hari itu. Pokoknya dia harus punya kekasih sebelum ulang tahunnya. Titik.
“Namamu boleh cantik seperti bunga, tapi kamu bukanlah bunga yang dapat mudah dipetik-” X
o
o
o
Proyek Cerita Pendek Bulanan 2019 adalah proyek yang terdiri dari kumpulan cerita pendek bertema romance yang ditulis berdasarkan latar waktu cerita itu terjadi (bulan/month). Jadi, setelah ini aku akan update cerpen lainnya di bulan Februari. Mungkin akan ada satu atau dua cerpen yang tokohnya terkait, tapi aku jamin itu nggak akan buat bingung waktu baca kok.
Semoga proyeknya berjalan dengan baik sampai akhir 2019. Amin. Maaf bila masih banyak kekurangan. Boleh komen kritik dan sarannya.
Terima kasih sudah mampir dan membaca. See you on Februari!
P.S: Hwa Ce Le itu maksudnya Huā Zé Lèi dan To Ming Se itu maksudnya Dào Míng Sì. Semoga nggak bingung ya. Hahaha.

Salam,

Putpit –

Semua ide dan isi cerita Januari © Putri Arumsari Budidiningrat (Putpit)
Semua konten media yang ada dalam cerita diambil dari Google

Iklan