Cerita Ala-Ala eps 7

 

Cerita Ala-Ala eps 7

Menuju 23 Tahun

Banyak hal kembali aku pikirkan. Bukan sesuatu yang berat bahkan mungkin hanya hal-hal sederhana. Tentang cinta, pernikahan, impian, pekerjaan, kehidupan, keluarga, dan lain sebagainya. Semuanya berseliweran di otakku ketika aku tidak melakukan apa-apa seperti sekarang ini.

Usiaku hampir memasuki usia 23 tahun. Memang tidak dalam waktu dekat, sekitar empat bulan ke depan lah. Namun, layaknya seorang gadis yang beranjak menjadi seorang wanita, aku pun mempunyai angan-angan mengenai pernikahan.

Pernikahan. Penyempurna separuh agama. Penyatuan dua hati, dua kepala, dua pikiran, dua kepribadian, dua keluarga, dan dua-dua lainnya. Pernikahan bukanlah akhir dari pencarian cinta melainkan awal bagaimana membangun cinta. Membangunnya atas ridho Allah SWT agar menjadi rumah tangga yang indah dengan keluarga hangat di dalamnya.

Pandanganku tentang pria berubah. Bukan kekasih melainkan suami. Aku membayangkan pria ‘seperti apa’ yang akan menghabiskan sisa hidupnya denganku nanti. Aku membayangkan pria ‘seperti apa’ yang bisa kujadikan sandaran di kala lelah dan sedih. Aku membayangkan pria ‘seperti apa’ yang akan menggandengku menuju surga Allah SWT.

Ah, dibalik tingginya angan-angan itu, aku masih merasa takut sekaligus payah dalam banyak hal. Ada seorang teman yang bilang jika kamu ingin pasangan bernilai 100 maka kamu harus membuat dirimu bernilai 100. Namun, aku bahkan mungkin bernilai 10 saja tidak sampai, hahaha. Lalu payahnya, aku tersangkut di titik ini, aku belum bisa memantaskan diriku sendiri.

Entah bagaimana ke depannya, aku berharap ketika aku telah bertemu suamiku, aku bisa berdiri dan bersanding bersamanya dengan nilai yang setara menurut Allah SWT. Amin.

Berlanjut ke impian, seindah-indahnya impian adalah yang terwujud di waktu yang tepat. Mungkin juga sama dengan jodoh ya. Hahaha.

Aku telah mengukir impianku untuk masuk di UNS sejak tahun 2014 dan Allah SWT mengabulkannya di tahun 2018. Sungguh keagungan kuasaNya begitu hebat hingga menempatkanku di waktu yang tepat. Aku bersyukur bisa berada disini sekarang, bukan dulu.

Banyak impian lain juga telah Allah SWT wujudkan untukku dan saat ini aku mempunyai impian baru. Semoga tahun ini Allah SWT membantuku untuk merealisasikannya. Amin.

Untuk yang ingin tahu apa impian barunya, sssttt rahasia. Nanti di suatu waktu, saat benar-benar terjadi, aku akan menceritakannya padamu.

Masa demi masa terasa terlewati begitu cepat. Aku yang balita yang masih senang digandeng oleh Mama-Papa sekarang justru berada jauh dari mereka. Ulang tahun di usia 5 tahun, aku pertama kali merayakannya dengan teman-temanku secara meriah. Ulang tahun di usia 17 tahun, aku terakhir kali merayakannya dengan teman-temanku secara meriah. Lalu menuju 23 tahun, esensi perayaan ulang tahun menjadi biasa saja buatku.

Aku yang balita yang masih senang berdiri di jok motor sambil dipegang oleh Mama selagi Papa sibuk menyetir sekarang justru berani pulang malam demi organisasi atau tugas kuliah. Sama seperti cerita Gunadi Kurniawan yang pernah aku baca, pada hakikatnya seorang anak pasti akan pergi. Entah merantau, menikah, atau alasan lainnya. Rumah yang berisi empat orang itu akan menjadi dua orang yaitu Mama-Papa. Lantas suatu hari, aku yang berganti menjadi sosok orang tua dan ritme kehidupan itu akan berputar lagi.

Sungguh aku bersyukur mempunyai orang tua yang hebat. Secuek apapun diriku, Mama-Papa adalah sumber perhatian yang selalu melimpahkan kasih sayangnya tanpa kenal keadaan.

Hari sudah semakin malam, sekian cerita ala-ala kali ini. Semoga ada manfaat di dalamnya. Bagi yang membaca proyek cerita bulananku, maafkan jika aku tidak bisa melanjutkannya sekarang. Semoga ada kesempatan sehingga aku dapat mengembangkannya di kemudian hari.

.

.

.

usia 20 tahun-an adalah masa dimana penuh pertanyaan dalam diri dan ada dua hal yang bisa membuat itu berhenti. pertama, kamu menemukan jawaban atas mereka. kedua, kamu lelah mencari jawaban atas mereka

-dalam kapasitas sesederhana itu

Surakarta – 23.00

Iklan